Rabu, 23 Januari 2013

SAINS DAN FILSAFATNYA



Falsafah ialah satu disiplin ilmiah yang mengusahakan kebenaran yang bersifat umum dan mendasar. Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani Φιλοσοφία philosophia, yang berarti love of wisdom atau mencintai kebenaran. Empat hal yang melahirkan fil-safat yaitu ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya dan keraguan. Ketakjuban terhadap segala sesuatu (terlihat/tidak) dan dapat diamati (dengan mata dan akal budi) serta ketidakpuasan akan penjelasan berdasarkan mitos membuat manusia mencari penjelasan yang lebih meyakinkan dan berpikir rasional. Hasrat bertanya membuat manusia terus mempertanyakan segalanya, tentang wujud sesuatu serta dasar dan hakikatnya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk memperoleh penjelasan yang lebih pasti menun-jukkan adanya keraguan (ketidakpastian) dan kebingungan pada manusia yang bertanya.
Ciri berpikir secara filsafati adalah radikal (berpikir tuntas, atau mendalam sampai ke akar masalah); sistematis (berfikir logis dan terarah, setahap demi setahap); dan universal (berpikir umum dan menyeluruh, tidak terbatas pada bagian-bagian tertentu, tetapi melihat masalah secara utuh) dan ranah makna (memikirkan makna terdalam berupa nilai kebenaran, keindahan dan kebaikan).
Dalam filsafat, digunakan nalar dan pernyataan-pernyataan untuk menemukan kebenaran dan pengetahuan akan fakta. Ketika menyelesaikan masalah secara falsafah, seseorang tidak harus merujuk pada sumber lain tapi hendaknya bisa menjawab masalah yang dipikirkannya menggunakan akal budinya, dengan pikiran yang bebas. Jika seseorang berfikir sangat dalam ketika menghadapi suatu masalah dalam hubungannya dengan kebenaran, maka orang itu dapat dikatakan telah berpikir secara filsafati dan kajian yang tersusun oleh pemikirannya itu disebut falsafah.
Objek material dari suatu kajian filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada mencakup apa yang tampak (dunia empiris) dan apa yang tidak tampak (dunia metafisik) sementara objek formalnya adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal dan rasional tentang segala yang ada (objek material). Suatu masalah akan menjadi masalah falsafah jika masalah tersebut tidak bisa diselesaikan dengan kaidah pengamatan atau kaidah sains.
Masalah falsafah biasanya melibatkan masalah tentang konsep, ideologi, dan masalah-masalah lain yang bersifat abstrak, contohnya apakah kebenaran? Apakah ilmu pengetahuan? Berpikir filsafati biasanya bertujuan untuk mencari jawaban atas masalah yang sifatnya baik dan bisa memajukan umat manusia.
Sains berarti ilmu, yaitu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu dan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan.
Cakupan objek filsafat lebih luas dibandingkan ilmu. Jika ilmu terbatas hanya pada persoalan empiris, maka filsafat mencakup masalah diluar empiris. Secara historis, ilmu berasal dari kajian filsafat karena pada awalnya filsafatlah yang melakukan pembahasan tentang segala yang ada secara sistematis, rasional dan logis. Filsafat merupakan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan.
Perkembangan kajian terkait dengan masalah empiris menimbulkan spesialisasi keilmuan dan menghasilkan kegunaan praktis. Sehingga, filsafat sains merupakan disiplin ilmu yang digunakan sebagai kerangka dasar/landasan berpikir bagi proses keilmuan. Seorang ilmuwan yang mampu berfikir filsafati, diharapkan bisa mendalami unsur-unsur pokok dari ilmu yang ditekuninya secara menyeluruh sehingga bisa memahami sumber, hakikat dan tujuan dari ilmu yang dikembangkannya, termasuk manfaatnya bagi pengembangan masyarakatnya.









B.     PEMBAHASAN
  1. Pengertian Filsafat Sains
Sains berarti ilmu, yaitu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu dan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan. Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat yang mempelajari ilmu. Filsuf yang tertarik dalam studi ilmu bagaimana pengetahuan dibangun oleh para ilmuwan, dan apa yang membuat ilmu yang berbeda dari kegiatan lain. Tidak diragukan lagi, ilmu pengetahuan modern memiliki pengetahuan maju dalam berbagai bidang.
Sains (Ilmu) adalah sistem pengetahuan dibidang tertentu yang bersifat umum, sistematis, metodologis, logis, objektif, empiris, memuat dalil-dalil tertentu menurut kaidah umum, berguna untuk mencari kebenaran ilmiah yang kemudian bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup manusia. Ilmu merupakan  kumpulan pengetahuan yang menjelaskan hubungan sebab akibat suatu objek yang diteliti berdasarkan metode tertentu, yang merupakan satu kesatuan sistematis. Sementara itu, pengetahuan merupakan bentukan pola pikir asosiatif antara pikiran dan kenyataan yang didasarkan pada kumpulan pengalaman sendiri/orang lain di suatu bidang tertentu tanpa memahami hubungan sebab akibat yang hakiki dan universal diantaranya sehingga tidak masuk dalam kelompok ilmu karena belum dapat menjelaskan pertanyaan mengapa. Filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponenkomponen yang menjadi tiang penyangga eksistensi ilmu, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi.

Ontologi (hakikat apa yang dikaji)
Dalam kajian ontologis, objek dibahas dari keberadaannya mencakup lingkup batas jati diri (being) dan keberadaan eksistensi penelaahan objek (sasaran) keilmuan serta penafsiran tentang hakekat (kenyataan) yang khas dari objek keilmuan, guna membentuk konsep tentang objek (alam nyata, baik universal ataupun spesifik). Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akan menentukan pendapatnya tentang apa dan bagaimana (yang) ada sebagai manifestasi kebenaran yang dicarinya. Beberapa contoh pertanyaan yang merupakan persoalan ontologi misalnya apa eksistensi dari zat padat? Apa itu sel? Bagaimana penjelasan elektronik, termodinamika atau hukum gravitasi?

Epistemologi (filsafat ilmu)
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai ilmu pengetahuan membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran ilmu.
Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. Rasio, pengalaman, atau kombinasi akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal modelmodel epistemologik seperti rasionalisme, empirisme, rasionalisme kritis, fenomenologi dan sebagainya. Di dalam epistemologi juga dibahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik be­serta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah), seperti teori ko­herensi, korespondesi pragmatis, dan teori intersubjektif.
Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan (ilmu), maka cara, sikap, dan sarana yang digunakan untuk membangun ilmu tersebut harus benar. Ilmu tentang suatu objek dikembangkan berdasarkan analisis yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. Metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghubung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris dan menggunakan bahasa, matematika dan statistika sebagai sarana berpikir ilmiah. Kebenaran ilmu dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta (kenyataan empiris) yang ada, dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia.
Secara rasional, ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, dan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai fakta dengan yang tidak sehingga terjadi penyempurnaan teori atau paradigma yang akhirnya membawa ilmu tersebut menjadi sains normal.  Contohdari epistemologi ilmu dibahas dalam materi sains normal.

Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu)
Aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya, netralitas ilmu hanya pada ontologis keilmuan sementara dalam penggunaannya harus berlandaskan moral dan ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan. Tiga hal yang mendasari alasan ini adalah: secara faktual telah diketahui bahwa ilmu digunakan untuk tujuan destruktif (perang); perkembangan ilmu memungkinkan ilmuwan memprediksi ekses yang mungkin timbul jika terjadi penyalahgunaan ilmu dan perkembangan ilmu telah sedemikian rupa sehingga berpeluang mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan rekayasa sosial.  Agar kegunaan ilmu itu tidak menjadi bencana bagi manusia dan kemanusiaan, maka seorang ilmuwan haruslah melandasi kegiatan ilmiahnya dengan asas-asas moral dan kode etik profesinya dengan penuh tanggung jawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar