Filsafat,sebuah
kata yang terdengar kadang begitu berat bagi sebagian orang, namun jika
dipelajari secara mendalam terkadang menimbulkan sensasi keasyikan tersendiri
buat penggemarnya. Berbicara mengenai perkembangan beberapa aliran filsafat,
kita mengenal aliran Materialisme yang dikemukakan pertama kali oleh
Herakleitos dan Parmenides adalah tonggak pertama dari perkembangan
aliran-aliran filsafat.
1. Herakleitos
(540-480 SM)
Menurut
Herakleitos, tidak ada satu pun di ala mini yang bersifat tetap atau permanen. Apa
yang kelihatan tetap, sebenarnya adalah dalam proses perubahan. Jadi, yang
menjadi sebab terdalam dari segala sesuatu adalah perubahan, yaitu gerakan
‘menjadi’ secara terus-menerus. Herakleitos menyebutnya ‘pantarei’, bahwa
realitas sesungguhnya adalah dalam keadaan sedang mengalir, sedang bergerak
menjadi, dan sering mengalami perubahan. Filsafat Herakleitos terkenal dengan
‘filsafat menjadi’ (to become),
realitas sesungguhnya adalah mengalami perubahan. Dari pendapatnya itu, dapat
ditarik suatu penilaian bahwa Herakleitos tidak mengakui adanya pengetahuan
umum yang bersifat tetap. Ia hanya mengakui kemampuan indera dan menolak
kemampuan akal. Karena setiap perubahan terjadi dalam realitas konkret, dalam
ruang dan waktu tertentu.
2.
Permenides (540-575 SM)
Parmenides
(540-575) terkenal sebagai bapak ‘Filsafat ada’ (philosophy of to be). Filsafatnya adalah, “yang realitas dalam ala
mini hanya satu, tidak bergerak dan tidak berubah”. Dasar pemikirannya adalah
yang ada itu ada, yang mustahil adalah tidak ada. Hal ini berarti bahwa di
dalam realitas ini penuh dengan yang ‘ada’. Jadi tidak ada yang lain termasuk
yang ‘tidak ada’, karena yang tidak ada itu di luar jangkauan akal dan tidak
dapat dipahami.
Karena yang
‘ada’ bersifat tetap, maka adanya hanya satu dan tak mungkin ada
permacam-macaman. Sebagai konsekuensinya, yang ‘ada’ tidak berawal dan tidak
mengalami keakhiran. Oleh karena yang ‘ada’ itu satu. Maka tidak mungkin
terbagi-bagi. Karena pendapatnya yang mengatakan bahwa ‘yang ada itu ada dan
yang tidak ada memang tidak ada’, Parmenides pun dikukuhkan sebagai peletak
landasan dasar metafisika. Parmenides sama sekali menolak pengetahuan indera
sebagai kebenaran, seperti yang diakui oleh Herakleitos. Pengetahuan yang benar
adalah pengetahuan akal, karena bersifat umum, tetap, dan tidak berubah.
Sedangkan pengetahuan indera adalah pengetahuan yang sama sekali keliru. Oleh
karena itu, kebenaran adalah sesuatu yang bersifat tetap.
Seiring
berjalannya waktu, aliran-aliran filsafat pun berkembang. Berikut ini aliran filsafat
dibagi menjadi 4 periode yaitu jaman kuno, jaman abad pertengahan, jaman modern
dan masa kini.
A). Jaman
Filsafat Yunani Kuno (600 SM-400M)
Jaman
kuno meliputi jaman filsafat pra-socrates di Yunani. Tokoh-tokohnya dikenal
dengan nama filsuf-filsuf pertama atau filsuf alam.
1. Idealisme
Sejarah
bergulir, aliran idealisme muncul melalui Socrates dan Plato. Ajaran Socrates
(469-399 SM) sepenuhnya dikembangkan oleh muridnya Plato (427-347 SM). Menurut
Socrates dunia sesungguhnya adalah ‘dunia idea’, dunia yang utuh dalam kesatuan
yang bersifat tetap, tidak berubah. Dunia ini penuh dengan bermacam-macam dan
perubahan. Karena itu, semua yang ada di dunia ini, termasuk manusia dan makhluk
lainnya, bersifat semu dan menjadi bayang-bayang dari dunia idea. Jadi, bukan
merupakan kebenaran.
Filsuf idealis
yang pertama kali dikenal adalah Plato. Plato membagi duni menjadi dua bagian. Pertama,
dunia persepsi, dunia penglihatan, suara dan benda-benda individual. Dunia yang
kengkret ini adalah temporal dan rusak, bukan dunia yang sesungguhnya,
malainkan sebagai bayangan alias penampakan saja. Kedua, terdapat di alam
benda, yaitu alam konsep, idea universal dan esensi yang abadi. Dengan kata
lain idea adalah gambaran asli segala benda. Semua yang ada dalam dunia
hanyalah penjelmaan. Idea tidak dapat ditangkap dengan indera, tapi dapat
dipikirkan. Kebijaksanaan hanya ada di dunia idea, yaitu dunia yang tidak
mungkin dapat disentuh oleh keterbatasan manusia. Ketidakmampuan manusia
terjadi karena jiwa (akal), sebagai potensi mengetahui kebenaran, terpenjara di
dalam badan. Badan selalu diliputi oleh nafsu yang mengotori jiwa. Dengan jiwa
yang kotor, akal tidak mungkin mengetahui secara mutlak idea kebijaksanaan.
Untuk dapat mengetahui kebijaksanaan, jiwa harus melepaskan diri dari penjara
badan. Untuk dapat lepas dari badan, jiwa harus membersihkan diri dengan
berperilaku ‘baik’, yaitu perilaku yang terbebas dari nafsu-nafsu badan.
Pandangan Socrates dan Plato dikenal sebagai paham ‘idealisme’.
2. Realisme
Aliran
berikutnya adalah Realisme yang digagas oleh Aristoteles (384-342 SM).
Bertentangan dengan Plato, gurunya, Aristoteles berpendapat bahwa dunia yang
sesungguhnya adalah dunia real, yaitu dunia konkret, yang bernacam-macam,
bersifat relative, dan berubah-ubah. Dunia idea adalah dunia abstrak yang
bersifat semu dan terlepas dari pengalaman. Itulah sebabnya mengapa pandangan
Aristoteles dikenal sebagai paham ‘realisme’. Namun selanjutnya, Aristoteles
dikenal sebagai bapak ‘metafisika’. Aristoteles memfokuskan filosofinya pada
persoalan tentang sesuatu yang ada di balik (sesudah) yang fisis, yang konkret,
dan selalu berubah-ubah ini. Teori aristoteles yang cukup terkenal adalah tentang
materi dan bentuk (simbolik). Keduanya ini merupakan prinsip-prinsip metafisis,
materi adalah prinsip yang tidak ditentukan, sedangkan bentuk adalah prinsip
yang menentukan. Teori ini terkenal dengan sebutan ‘Hylemorfisme’.
B). Jaman
Modern
Pada jaman modern, pusat perhatian
pemikiran tidak lagi kosmos, seperti jaman kuno, melainkan manusia. Mulai jaman
modern inilah manusia yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan. Jaman modern
ditandai dengan munculnya rasionalisme Rene Descrates. Diikuti oleh aliran dari John Locke dan
Immanuel Kant.
1. Rasionalisme
Aliran selanjutnya adalah Rasionalisme yang diusung
oleh Rene Descartes (1596-1650). Rene Descartes adalah ahli filsafat yang
mengagungkan rasio. Pengetahuan yang benar bersumber dari dunia rasio, karena
rasio adalah realitas sesungguhnya. Dalam rasio terdapat ide-ide dan dengan
ide-ide itu orang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan
realitas diluar rasio. Dalam memahami aliran rasionalisme, kita harus
memperhatikan dua masalah utama, yang keduanya diwarisi dari Decrates. Pertama,
masalah subtansi, kedua adalah masalah hubungan antara jiwa dan tubuh. Hal ini
terbukti dengan ucapannya yang terkenal “cogito
ergo sum” (I think therefore I am); dalam kegiatan pemikiran menentukan
keberadaanku.
Terlepas dari segala argumen dan kritikan, Descartes
telah berhasil memberikan fondasi kepastian bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Descartes telah menemukan sesuatu yang tak terpikir oleh filsafat klasik,
sebuah cara penalaran baru yang menjamin kebenaran dirinya sendiri secara
pasti. Dunia filsafat hingga sekarang tidak mungkin melupakan dirinya sebagai the founder of modern philosophy.
2. Empirisme
Empirisme muncul dengan tokohnya yang terkenal John
Locke (1632-1704). Locke termasuk orang yang mengagumi Descrates, tetapi ia
tidak menyetujui ajarannya. Bagi Locke mula-mula rasio manusia dianggap sebagai
‘lembaran kertas putih’. Pengetahuan yang benar bersumber dari dunia
pengalaman, dunia konkret. Realitas adalah “tabularasa”, bagaikan kertas putih
yang perlu diisi dengan banyak pengalaman. Semakin banyak pengalaman mengenai
sesuatu hal, semakin banyak pula kebenaran objektif yang didapatkan tentang
sesuatu hal itu. Kemampuan rasio hanya dapat mengetahui secara abstrak, umum, dan
bersifat tetap. Pengalaman panca inderalah yang maapu mengenali yang konkret,
yang satu per satu dan selalu berubah-ubah ini.
3. Kritisisme
Selanjutnya
datang aliran kritisisme yang dibawa oleh Immanuel Kant (1724-1804). Filsafat ini
memulai pelajarannya dengan menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai
sumber pengetahuan manusia. Isi utama dari kritisisme adalah gagasan Immanuel
Kant tentang teori pengetahuan, etika dan estetika. Pengetahuan yang benar ada
di dunia idea; dunia kritik atas kemampuan akal pikiran dan pengalaman. Sesuatu
yang menampak, yang dapat dialami dan dipikiran, hanyalah gejala (fenomena), bukan
halnya sendiri dan bukan substansinya. Halnya sendiri tidak bisa disentuh baik
oleh kemampuan rasio maupun pengalaman. Demikianlah, Immanuel kant berpendapat
secara akumulatif.
Secara
fenomenologis, pengetahuan yang bersumber dari rasio disebut pengetahuan
apriori, dan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman disebut pengetahuan
aposteriori. Menurut metodenya, dibedakan menjadi pengetahuan sintetik dan
pengetahuan analitik. Kombinasi antara sumber dan metode melahirkan 4 (empat)
jenis pengetahuan, yaitu sintetik-apriori, sintetik-aposteriori, analitik-apriori,
dan analitik-aposteriori. Dengan keempat sumber dan metode mengetahui tersebut,
Kant mencoba membuktikan bahwa kemampuan rasio dan pengalaman tidak bisa
dipisahkan. Keduanya saling berada di dalam kelemahan dan kekuatannya
masing-masing. Rasio memiliki kemampuan menangkap kebenaran pengetahuan secara
umum, tetapi lemah dan kabur terhadap pengetahuan konkret khusus. Sebaliknya,
pengalaman memiliki kekuatan mengenali setiap hal yang khusus, tetapi kabur
terhadap prinsip-prinsip umum.
C). Masa
Kini
Masa
kini dimulai abad 19 dan 20 dengan timbulnya berbagai aliran yang berpengaruh
seperti positivisme, marxisme, eksistensialisme, pragmatisme, humanism, feminism.
1. Positivisme
Istilah
positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat dirunut
asalnya ke pemikiran Auguste Comte (1798-1857). A. Comte menyatakan bahwa
pemikiran setiap manusia, pemikiran setiap ilmu dan pemikiran suku bangsa
manusia pada umumnya melewati tiga tahapan, yaitu:
a. Tahap
teologis: manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat
kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Tahap
teologis itu ini sendiri dapat dibagikan lagi atas tiga periode. Pada taraf
paling primitif benda-benda sendiri dianggap berjiwa (animisme). Pada taraf
berikutnya manusia percaya pada dewa-dewa yang masih menguasai suatu lapangan
dengannya ialah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun
pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia saja.
b. Tahap
metafisis: kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan
prinsip-prinsip yang abstrak, seperti misalnya kodrat dan penyebab. Metafisika dijunjung
tinggi dalam tahap ini.
c. Tahap
positif ilmiah: dalam tahap positif ini manusia membatasi diri pada fakta-fakta
yang disajikan kepadanya. Baru dalam tahap terakhir ini dihasilkan ilmu
pengetahuan dalam arti sebenarnya.
Comte
berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan
berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit
perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan
kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.
2.
Ekstensialisme
Eksistensialisme dipersiapkan dalam
abad ke 19 oleh S. Kierkegaard (1813-1855) dan F. Nietsche (1844-1900). Dalam abad
ke 20, eksistensialisme menjadi aliran filsafat yang sangat penting. Eksistensialisme
adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang
bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam
mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui
mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar
bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas
menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
Eksistensialisme adalah salah satu
aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme
mempersoalkan keberadaan manusia, dan keberadaan itu dihadirkan lewat
kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah
melulu soal kebebasan. Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus
menjadi “seorang yang lain daripada yang lain”, sadar bahwa keberadaan dunia
merupakan sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu
yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat
sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya
dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau
kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur,
pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah,
apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri.
3.
Pragmatisme
Pragmatisme
merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat tahun 1900. Tokoh-tokoh
terpenting dari pragmatism: W. James (1842-1920) dan J. Dewey (1859-1914). Pragmatism
mengajarkan bahwa ide-ide tidak ‘benar’ atau ‘salah’ melainkan bahwa ide-ide
dijadikan benar oleh suatu tindakan tertentu. Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa
yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan
melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis.
Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting
melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu.
Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan
pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual dan konkret.
Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja.
Representasi atau penjelmaan
realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan
merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan
dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan
pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik,
sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah.
4.
Humanisme
Sejak
abad ke 15 yang disebut dengan masa kebangkitan kembali atau renaissance yang
berkembang di Italia, timbul pandangan humanisme yang didukung oleh berbagai
penemuan seperti mesin cetak serta ditemukannya benua Amerika dan India oleh
Columbus dan Vasco de Gama.
Humanisme
memiliki dua arah, yakni humanisme individu dan humanisme social. Humanisme
individu mengutamakan kemerdekaan berpikir, mengemukakan pendapat, dan berbagai
aktivitas yang kreatif. Kemampuan ini disalurkan melalui kesenian,
kesusastraan, musik, teknologi, dan penguasaan tentang ilmu kealaman. Humanisme
social mengutamakan pendidikan bagi masyarakat keseluruhan untuk kesejahteraan
social dan perbaikan hubungan antarmanusia.
DEWI
ANGGRAINI PURWANDHARI
12708251083
Pendidikan
Sains Kelas D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar