Minggu, 30 September 2012

ALIRAN FILSAFAT DAN PERKEMBANGANNYA


Filsafat,sebuah kata yang terdengar kadang begitu berat bagi sebagian orang, namun jika dipelajari secara mendalam terkadang menimbulkan sensasi keasyikan tersendiri buat penggemarnya. Berbicara mengenai perkembangan beberapa aliran filsafat, kita mengenal aliran Materialisme yang dikemukakan pertama kali oleh Herakleitos dan Parmenides adalah tonggak pertama dari perkembangan aliran-aliran filsafat.
1.      Herakleitos (540-480 SM)
Menurut Herakleitos, tidak ada satu pun di ala mini yang bersifat tetap atau permanen. Apa yang kelihatan tetap, sebenarnya adalah dalam proses perubahan. Jadi, yang menjadi sebab terdalam dari segala sesuatu adalah perubahan, yaitu gerakan ‘menjadi’ secara terus-menerus. Herakleitos menyebutnya ‘pantarei’, bahwa realitas sesungguhnya adalah dalam keadaan sedang mengalir, sedang bergerak menjadi, dan sering mengalami perubahan. Filsafat Herakleitos terkenal dengan ‘filsafat menjadi’ (to become), realitas sesungguhnya adalah mengalami perubahan. Dari pendapatnya itu, dapat ditarik suatu penilaian bahwa Herakleitos tidak mengakui adanya pengetahuan umum yang bersifat tetap. Ia hanya mengakui kemampuan indera dan menolak kemampuan akal. Karena setiap perubahan terjadi dalam realitas konkret, dalam ruang dan waktu tertentu.
2.      Permenides (540-575 SM)
Parmenides (540-575) terkenal sebagai bapak ‘Filsafat ada’ (philosophy of to be). Filsafatnya adalah, “yang realitas dalam ala mini hanya satu, tidak bergerak dan tidak berubah”. Dasar pemikirannya adalah yang ada itu ada, yang mustahil adalah tidak ada. Hal ini berarti bahwa di dalam realitas ini penuh dengan yang ‘ada’. Jadi tidak ada yang lain termasuk yang ‘tidak ada’, karena yang tidak ada itu di luar jangkauan akal dan tidak dapat dipahami.
Karena yang ‘ada’ bersifat tetap, maka adanya hanya satu dan tak mungkin ada permacam-macaman. Sebagai konsekuensinya, yang ‘ada’ tidak berawal dan tidak mengalami keakhiran. Oleh karena yang ‘ada’ itu satu. Maka tidak mungkin terbagi-bagi. Karena pendapatnya yang mengatakan bahwa ‘yang ada itu ada dan yang tidak ada memang tidak ada’, Parmenides pun dikukuhkan sebagai peletak landasan dasar metafisika. Parmenides sama sekali menolak pengetahuan indera sebagai kebenaran, seperti yang diakui oleh Herakleitos. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan akal, karena bersifat umum, tetap, dan tidak berubah. Sedangkan pengetahuan indera adalah pengetahuan yang sama sekali keliru. Oleh karena itu, kebenaran adalah sesuatu yang bersifat tetap.

Seiring berjalannya waktu, aliran-aliran filsafat pun berkembang. Berikut ini aliran filsafat dibagi menjadi 4 periode yaitu jaman kuno, jaman abad pertengahan, jaman modern dan masa kini.


A).  Jaman Filsafat Yunani Kuno (600 SM-400M)
Jaman kuno meliputi jaman filsafat pra-socrates di Yunani. Tokoh-tokohnya dikenal dengan nama filsuf-filsuf pertama atau filsuf alam.
1.      Idealisme
Sejarah bergulir, aliran idealisme muncul melalui Socrates dan Plato. Ajaran Socrates (469-399 SM) sepenuhnya dikembangkan oleh muridnya Plato (427-347 SM). Menurut Socrates dunia sesungguhnya adalah ‘dunia idea’, dunia yang utuh dalam kesatuan yang bersifat tetap, tidak berubah. Dunia ini penuh dengan bermacam-macam dan perubahan. Karena itu, semua yang ada di dunia ini, termasuk manusia dan makhluk lainnya, bersifat semu dan menjadi bayang-bayang dari dunia idea. Jadi, bukan merupakan kebenaran.
Filsuf idealis yang pertama kali dikenal adalah Plato. Plato membagi duni menjadi dua bagian. Pertama, dunia persepsi, dunia penglihatan, suara dan benda-benda individual. Dunia yang kengkret ini adalah temporal dan rusak, bukan dunia yang sesungguhnya, malainkan sebagai bayangan alias penampakan saja. Kedua, terdapat di alam benda, yaitu alam konsep, idea universal dan esensi yang abadi. Dengan kata lain idea adalah gambaran asli segala benda. Semua yang ada dalam dunia hanyalah penjelmaan. Idea tidak dapat ditangkap dengan indera, tapi dapat dipikirkan. Kebijaksanaan hanya ada di dunia idea, yaitu dunia yang tidak mungkin dapat disentuh oleh keterbatasan manusia. Ketidakmampuan manusia terjadi karena jiwa (akal), sebagai potensi mengetahui kebenaran, terpenjara di dalam badan. Badan selalu diliputi oleh nafsu yang mengotori jiwa. Dengan jiwa yang kotor, akal tidak mungkin mengetahui secara mutlak idea kebijaksanaan. Untuk dapat mengetahui kebijaksanaan, jiwa harus melepaskan diri dari penjara badan. Untuk dapat lepas dari badan, jiwa harus membersihkan diri dengan berperilaku ‘baik’, yaitu perilaku yang terbebas dari nafsu-nafsu badan. Pandangan Socrates dan Plato dikenal sebagai paham ‘idealisme’.

2.      Realisme
Aliran berikutnya adalah Realisme yang digagas oleh Aristoteles (384-342 SM). Bertentangan dengan Plato, gurunya, Aristoteles berpendapat bahwa dunia yang sesungguhnya adalah dunia real, yaitu dunia konkret, yang bernacam-macam, bersifat relative, dan berubah-ubah. Dunia idea adalah dunia abstrak yang bersifat semu dan terlepas dari pengalaman. Itulah sebabnya mengapa pandangan Aristoteles dikenal sebagai paham ‘realisme’. Namun selanjutnya, Aristoteles dikenal sebagai bapak ‘metafisika’. Aristoteles memfokuskan filosofinya pada persoalan tentang sesuatu yang ada di balik (sesudah) yang fisis, yang konkret, dan selalu berubah-ubah ini. Teori aristoteles yang cukup terkenal adalah tentang materi dan bentuk (simbolik). Keduanya ini merupakan prinsip-prinsip metafisis, materi adalah prinsip yang tidak ditentukan, sedangkan bentuk adalah prinsip yang menentukan. Teori ini terkenal dengan sebutan ‘Hylemorfisme’.

B).  Jaman Modern
Pada jaman modern, pusat perhatian pemikiran tidak lagi kosmos, seperti jaman kuno, melainkan manusia. Mulai jaman modern inilah manusia yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan. Jaman modern ditandai dengan munculnya rasionalisme Rene Descrates.  Diikuti oleh aliran dari John Locke dan Immanuel Kant.
1.      Rasionalisme
Aliran selanjutnya adalah Rasionalisme yang diusung oleh Rene Descartes (1596-1650). Rene Descartes adalah ahli filsafat yang mengagungkan rasio. Pengetahuan yang benar bersumber dari dunia rasio, karena rasio adalah realitas sesungguhnya. Dalam rasio terdapat ide-ide dan dengan ide-ide itu orang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas diluar rasio. Dalam memahami aliran rasionalisme, kita harus memperhatikan dua masalah utama, yang keduanya diwarisi dari Decrates. Pertama, masalah subtansi, kedua adalah masalah hubungan antara jiwa dan tubuh. Hal ini terbukti dengan ucapannya yang terkenal “cogito ergo sum” (I think therefore I am); dalam kegiatan pemikiran menentukan keberadaanku.
Terlepas dari segala argumen dan kritikan, Descartes telah berhasil memberikan fondasi kepastian bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Descartes telah menemukan sesuatu yang tak terpikir oleh filsafat klasik, sebuah cara penalaran baru yang menjamin kebenaran dirinya sendiri secara pasti. Dunia filsafat hingga sekarang tidak mungkin melupakan dirinya sebagai the founder of modern philosophy.

2.      Empirisme
Empirisme muncul dengan tokohnya yang terkenal John Locke (1632-1704). Locke termasuk orang yang mengagumi Descrates, tetapi ia tidak menyetujui ajarannya. Bagi Locke mula-mula rasio manusia dianggap sebagai ‘lembaran kertas putih’. Pengetahuan yang benar bersumber dari dunia pengalaman, dunia konkret. Realitas adalah “tabularasa”, bagaikan kertas putih yang perlu diisi dengan banyak pengalaman. Semakin banyak pengalaman mengenai sesuatu hal, semakin banyak pula kebenaran objektif yang didapatkan tentang sesuatu hal itu. Kemampuan rasio hanya dapat mengetahui secara abstrak, umum, dan bersifat tetap. Pengalaman panca inderalah yang maapu mengenali yang konkret, yang satu per satu dan selalu berubah-ubah ini.

3.      Kritisisme
Selanjutnya datang aliran kritisisme yang dibawa oleh Immanuel Kant (1724-1804). Filsafat ini memulai pelajarannya dengan menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Isi utama dari kritisisme adalah gagasan Immanuel Kant tentang teori pengetahuan, etika dan estetika. Pengetahuan yang benar ada di dunia idea; dunia kritik atas kemampuan akal pikiran dan pengalaman. Sesuatu yang menampak, yang dapat dialami dan dipikiran, hanyalah gejala (fenomena), bukan halnya sendiri dan bukan substansinya. Halnya sendiri tidak bisa disentuh baik oleh kemampuan rasio maupun pengalaman. Demikianlah, Immanuel kant berpendapat secara akumulatif.
Secara fenomenologis, pengetahuan yang bersumber dari rasio disebut pengetahuan apriori, dan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman disebut pengetahuan aposteriori. Menurut metodenya, dibedakan menjadi pengetahuan sintetik dan pengetahuan analitik. Kombinasi antara sumber dan metode melahirkan 4 (empat) jenis pengetahuan, yaitu sintetik-apriori, sintetik-aposteriori, analitik-apriori, dan analitik-aposteriori. Dengan keempat sumber dan metode mengetahui tersebut, Kant mencoba membuktikan bahwa kemampuan rasio dan pengalaman tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling berada di dalam kelemahan dan kekuatannya masing-masing. Rasio memiliki kemampuan menangkap kebenaran pengetahuan secara umum, tetapi lemah dan kabur terhadap pengetahuan konkret khusus. Sebaliknya, pengalaman memiliki kekuatan mengenali setiap hal yang khusus, tetapi kabur terhadap prinsip-prinsip umum.

C).  Masa Kini
Masa kini dimulai abad 19 dan 20 dengan timbulnya berbagai aliran yang berpengaruh seperti positivisme, marxisme, eksistensialisme, pragmatisme, humanism, feminism.
1.      Positivisme
Istilah positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat dirunut asalnya ke pemikiran Auguste Comte (1798-1857). A. Comte menyatakan bahwa pemikiran setiap manusia, pemikiran setiap ilmu dan pemikiran suku bangsa manusia pada umumnya melewati tiga tahapan, yaitu:
a.       Tahap teologis: manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Tahap teologis itu ini sendiri dapat dibagikan lagi atas tiga periode. Pada taraf paling primitif benda-benda sendiri dianggap berjiwa (animisme). Pada taraf berikutnya manusia percaya pada dewa-dewa yang masih menguasai suatu lapangan dengannya ialah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia saja.
b.      Tahap metafisis: kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak, seperti misalnya kodrat dan penyebab. Metafisika dijunjung tinggi dalam tahap ini.
c.       Tahap positif ilmiah: dalam tahap positif ini manusia membatasi diri pada fakta-fakta yang disajikan kepadanya. Baru dalam tahap terakhir ini dihasilkan ilmu pengetahuan dalam arti sebenarnya.
 Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.

2.      Ekstensialisme
Eksistensialisme dipersiapkan dalam abad ke 19 oleh S. Kierkegaard (1813-1855) dan F. Nietsche (1844-1900). Dalam abad ke 20, eksistensialisme menjadi aliran filsafat yang sangat penting. Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keberadaan manusia, dan keberadaan itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi “seorang yang lain daripada yang lain”, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri.

3.      Pragmatisme
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat tahun 1900. Tokoh-tokoh terpenting dari pragmatism: W. James (1842-1920) dan J. Dewey (1859-1914). Pragmatism mengajarkan bahwa ide-ide tidak ‘benar’ atau ‘salah’ melainkan bahwa ide-ide dijadikan benar oleh suatu tindakan tertentu. Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu. Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual dan konkret. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja.
Representasi atau penjelmaan realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah.

4.      Humanisme
Sejak abad ke 15 yang disebut dengan masa kebangkitan kembali atau renaissance yang berkembang di Italia, timbul pandangan humanisme yang didukung oleh berbagai penemuan seperti mesin cetak serta ditemukannya benua Amerika dan India oleh Columbus dan Vasco de Gama.
Humanisme memiliki dua arah, yakni humanisme individu dan humanisme social. Humanisme individu mengutamakan kemerdekaan berpikir, mengemukakan pendapat, dan berbagai aktivitas yang kreatif. Kemampuan ini disalurkan melalui kesenian, kesusastraan, musik, teknologi, dan penguasaan tentang ilmu kealaman. Humanisme social mengutamakan pendidikan bagi masyarakat keseluruhan untuk kesejahteraan social dan perbaikan hubungan antarmanusia.

DEWI ANGGRAINI PURWANDHARI
12708251083
Pendidikan Sains Kelas D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar