Dosen :
Prof. Marsigit, MA
Pewawancara :
Dewi Anggraini P. (12708251083)
Yang diwawancarai :
Cahyani Eka Romadhoni (1270825)
PSn Kelas D 2012
Apakah Diriku Seperti Batu?
1.
Apakah yang kamu ketahui tentang batu?
Jawaban:
Menurut saya, batu adalah sesuatu yang
keras, bentuknya bermacam-macam, batu itu diam. Batu adalah sesuatu yang
mungkin ada dalam pikiranku dan dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Batuan umumnya diklasifikasikan berdasarkan
komposisi mineral dan kimia, dengan tekstur partikel unsur dan oleh proses yang
membentuk mereka. Ciri - ciri ini mengklasifikasikan batuan menjadi beku,
sedimen, dan metamorf. Mereka lebih diklasifikasikan berdasarkan ukuran
partikel yang membentuk mereka. (http://id.wikipedia.org/wiki/Batu)
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahya
tentang definisi batu. Definisi di atas adalah tentang definisi formalnya.
Batuan / Batu adalah sejenis bahan yang
terdiri daripada mineral dan dikelaskan menurutkomposisi mineral. Pengkelasan
ini dibuat dengan berdasarkan:Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan
lautan dimana bagian dari lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan
tetapi karena daratan adalah bagian dari kulit bumi yangdapat kita amati
langsung dengan dekat maka banyak hal-hal yang dapat pula kita ketahuidengan
cepat dan jelas. Salah satu diantaranya adalah kenyataan bahwa daratan
tersusunoleh beberapa jenis batuan yang berbeda satu sama lain. (http://www.scribd.com/doc/28184963/Batuan-Batu-Adalah-Sejenis-Bahan-Yang)
2.
Apakah filsafat dari batu?
Jawaban:
Filsafat dari batu adalah bodoh atau tidak
berilmu. Kebodohan adalah keadaan dan situasi di saat kurangnya pengetahuan
terhadap sesuatu informasi bersifat subjektif. Hal ini tidak sama dengan
tingkat kecerdasan yang rendah (kedunguan), seperti kualitas intelektual dan
tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang. Kata "bodoh" adalah kata
sifat yang menggambarkan keadaan di saat seseorang tidak menyadari sesuatu hal,
tapi masih memiliki kemampuan untuk memahaminya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kebodohan)
Tanggapan:
Saya setuju dengan jawaban mbak Cahyani.
Seperti yang pernah dijelaskan oleh Pak Marsigit dalam kuliah filsafat,
filsafat atau normatifnya dari batu adalah tidak berilmu atau bodoh.
3.
Kapan batu itu mulai ada?
Jawaban:
Batu mulai ada ketika dalam kondisi tidak
berfikir, waktu yang ada dan yang mungkin ada dalam pikiranku.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahyani,
bahwa batu itu akan muncul ketika tidak bisa menggunakan akal pikirannya untuk
berfikir dalam ruang dan waktu. Maka merugi sekali bila batu dijadikan fondamen
dalam dirikita.
4.
Bagaimana ukuran batu itu? Besar atau kecil?
Jawaban:
Ukuran batu menurut saya adalah relative
terhadap ruang dan waktu. Ukurannya bisa besar dan bisa kecil.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak cahyani,
bahwa ukuran batu itu relatif terhadap ruang dan waktu. Menurut saya tingkat
kebodohan bisa dari tingkat yang paling kecil sampai tingkat yang paling besar.
Kebodohan yang paling besar misalnya seseorang yang tidak bisa menghargai hidup
ini.
5.
Apakah seseorang bisa dikatakan sebagai batu?
Mengapa?
Jawaban:
Manusia bisa dikatakan sebagai batu, ketika
orang itu adalah orang bodoh, tidak mau berfikir kritis, tidk mau berintuisi,
tidak mau belajar dari pengalaman, dan tidak mau belajar dari orang yang pandai (filsuf).
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak cahyani,
bahwa benarlah orang itu akan seperti batu ketika dirinya tidak bisa
memanfaatkan akal pikiran yang telah di anugrahkan oleh Tuhan sang maha
pencipta.
6.
Bagaimana cirri-ciri orang yang bersifat batu?
Jawaban:
Ciri-ciri orang yang bersifat batu:
·
Tidak mau berfikir kritis
·
Merasa sudah pandai
·
Jarang bertanya
·
Tidak mau belajar dari pengalaman
·
Tidak mau menggunakan intuisi
Tanggapan:
Saya setuju dengan jawaban mbak Cahyani.
Telah di jawab seperti diatas, hindarilahdiri kita dari cirri-ciri tersebut
karena itu adalah akar dari tumbuhnya kebodohan. Hidup berawal dari intuisi.
Ilmu pengetahuan tumbuh dari intuisi ruang dan waktu. Mengacu kepada
epistimologi filsafat. Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan
dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya
serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki
oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan
panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode
deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis. (http://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi)
7.
Sifat batu itu berasal dari mana?
Jawaban:
Sifat batu itu berasal dari mana-mana
ketika orang tersebut tidak mau berfikir sehingga tidak berilmu (bodoh).
Tanggapan:
Saya setuju dengan jawaban mbak Cahyani.
Tonggak dari kebodohan adalah ketika seeorang tidak mampu menggunakan akal
pikirannya, seseorang tidak dapat berintuisi terhadap ruang dan waktu. Hendaknya
diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa
dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam
beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh
melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi
sebagian saja-yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa
yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan
dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan,
barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada
kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang
senyatanya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi).
8.
Bagaimana menghindari sifat batu?
Jawaban:
Cara menghindari sifat batu:
·
Berfikir kritis
·
Banyak bertanya
·
Mau belajar dari pengalaman dan teori
·
Berintuisi
Tanggapan:
Saya setuju dengan jawaban mbak
Cahyani. Beberapa cara di atas adalah trik-trik untuk menghindari sifat batu,
agar kita terhindar dari kebodohan dan pengetahuan lah yang kita dapat.
Pengetahuan bisa berasal dari apriori dan aposteriori. Apriori adalah
pengetahuan yang ada sebelum bertemu dengan pengalaman. Atau dengan kata lain,
sebuah istilah yang dipakai untuk menjelaskan bahwa seseorang dapat berpikir
dan memiliki asumsi tentang segala sesuatu, sebelum bertemu dengan pengalaman
dan akhirnya mengambil kesimpulan. Hal ini dipakai untuk mengritik filsafa
empirisme yang hanya menekankan yang logis, yang dialami, yaitu selalu
bergantung pada pengalaman, hal itu disebut sebagai aposteriori. Istilah ini
paling sering dan penting dikemukakan oleh filsuf besar, Imanuel Kant. Bagi
Kant, apriori berangkat dari dugaan tanpa bergantung yang empiris atau
pengalaman yang bisa ditangkap oleh inderawi. Istilah ini dipakai untuk
menyatakan bahwa manusia sudah memiliki kesadaran dalam dirinya sebelum bertemu
dengan pengalaman-pengalaman dalam lingkungan dan dunianya. Kant menyatakan
bahwa pengetahuan yang sahih bukan hanya bergantung dari pengamalam saja, sebab
hal ini kurang logis berkenaan dengan waktu dan asal mula. Bagi dia, terdapat
hal-hal yang selalu tidak bisa ditangkap dan dijelaskan oleh inderawi saja.
Imanuel Kant meyakini bahwa ada sesuatu yang menjadi "dalang" atas
pikirannya. Dan dia memakai istilah "transenden" untuk menunjukkan
subyek yang niscaya sudah ada itu. (http://id.wikipedia.org/wiki/Apriori)
9.
Apakah sifat batu itu tetap atau sementara?
Jawaban:
Menurut saya sifat batu itu sementara
melekat pada orang. Sebodoh-bodohnya orang dalam fase hidupnya pasti
menggunakan pikirannya. Contoh: kalau orang lapar, dia akan berfikir bagaimana
dia mencari makanan.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahyani.
Sifat batu yang melekat kepada seseorang hanyalah sementara.
10.
Adakah lawan dari batu?
Jawaban:
Lawan dari batu adalah orang yang berfikir.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahyani.
Seperti yang telah di jelaskan dalam pertanyaan sebelumnnya, lawan dari batu
atau kebodohan adalah orang yang berfikir. Karena filsafatnya orang adalah
manusia yang berfikir, dengan yang ada dan yang mungkin ada sebagai obyeknya.
11.
Kapan sifat batu itu berakhir?
Jawaban:
Sifat batu berakhir ketika ketika orang itu
mau berfikir dan menggunakan pikirannya.
Tanggapan:
Saya sependapat dengan jawaban mbak Cahya.
Sifat batu itu akan musnah ketika orang itu mau berfikir, mau berintuisi.
12.
Adakah batu yang bermanfaat?
Jawaban:
Menurut saya, batu bermanfaat itu relative
dan kontradiktif. Misal: ketika kita bertanya mengenai masalah pelajaran kepada
orang yang bodoh, maka ia tidak bisa menjawab, itu artinya kita rugi.
Sebaliknya jika ada penipu hendak membohongi orang bodoh, dia dapat dengan
mudah melakukannya. Itu artinya orang bodoh menguntungkan penipu.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahyani.
Relatif dan kontadiktif, karena manusia hidup relatif terhadap ruang dan waktu.
Dan hidup itu sendiri adalah kontradiktif.
13.
Bilalamana laki-laki dan perempuan bisa
bercinta, bagaimana dengan batu? Apakah batu bisa bercinta?
Jawaban:
Cincin bisa bercinta sama halnya laki-laki
dan perempuan. Ketika ada orang menikah lalu tukar cincin maka batu cincin
sedang bercinta.
Tanggapan:
Saya sependapat dengan jawaban mbak
Cahyani. Seperti yang pernah di terangkan dalam kuliah filsafat Pak marsigit,
bahwa batu bisa bercinta ketika dua insan manusia laki-laki dan perempuan
sedang melakukan tukar cincin.
14.
Apakah batu bisa menangis dan tersenyum?
Jawaban:
Batu bisa menangis dan tersenyum. Menangis
jika orang mau berfikir, itu artinya batu akan ditinggalkan karena orangnya
lebih memilih untuk berfikir. Tersenyum jika orng itu tidak berfikir dan
menutup pikirannya menjadi batu dan batu akan senang dan tersenyum.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak cahyani. Orang
yang tidak merugi adalah orang yang mau berfikir, orang yang berintuisi, orang
yang berilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar