Selasa, 13 November 2012

Apakah Diriku Seperti Batu?

Dosen                                   : Prof. Marsigit, MA
Pewawancara                    : Dewi Anggraini P. (12708251083)
Yang diwawancarai          : Cahyani Eka Romadhoni (1270825)
PSn Kelas D 2012



Apakah Diriku Seperti Batu?
1.       Apakah yang kamu ketahui tentang batu?
Jawaban:
Menurut saya, batu adalah sesuatu yang keras, bentuknya bermacam-macam, batu itu diam. Batu adalah sesuatu yang mungkin ada dalam pikiranku dan dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari.  Batuan umumnya diklasifikasikan berdasarkan komposisi mineral dan kimia, dengan tekstur partikel unsur dan oleh proses yang membentuk mereka. Ciri - ciri ini mengklasifikasikan batuan menjadi beku, sedimen, dan metamorf. Mereka lebih diklasifikasikan berdasarkan ukuran partikel yang membentuk mereka. (http://id.wikipedia.org/wiki/Batu)
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahya tentang definisi batu. Definisi di atas adalah tentang definisi formalnya.
 Batuan / Batu adalah sejenis bahan yang terdiri daripada mineral dan dikelaskan menurutkomposisi mineral. Pengkelasan ini dibuat dengan berdasarkan:Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian dari lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan tetapi karena daratan adalah bagian dari kulit bumi yangdapat kita amati langsung dengan dekat maka banyak hal-hal yang dapat pula kita ketahuidengan cepat dan jelas. Salah satu diantaranya adalah kenyataan bahwa daratan tersusunoleh beberapa jenis batuan yang berbeda satu sama lain. (http://www.scribd.com/doc/28184963/Batuan-Batu-Adalah-Sejenis-Bahan-Yang)

2.       Apakah filsafat dari batu?
Jawaban:
Filsafat dari batu adalah bodoh atau tidak berilmu. Kebodohan adalah keadaan dan situasi di saat kurangnya pengetahuan terhadap sesuatu informasi bersifat subjektif. Hal ini tidak sama dengan tingkat kecerdasan yang rendah (kedunguan), seperti kualitas intelektual dan tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang. Kata "bodoh" adalah kata sifat yang menggambarkan keadaan di saat seseorang tidak menyadari sesuatu hal, tapi masih memiliki kemampuan untuk memahaminya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kebodohan)
Tanggapan:
Saya setuju dengan jawaban mbak Cahyani. Seperti yang pernah dijelaskan oleh Pak Marsigit dalam kuliah filsafat, filsafat atau normatifnya dari batu adalah tidak berilmu atau bodoh.

3.       Kapan batu itu mulai ada?
Jawaban:
Batu mulai ada ketika dalam kondisi tidak berfikir, waktu yang ada dan yang mungkin ada dalam pikiranku.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahyani, bahwa batu itu akan muncul ketika tidak bisa menggunakan akal pikirannya untuk berfikir dalam ruang dan waktu. Maka merugi sekali bila batu dijadikan fondamen dalam dirikita.

4.       Bagaimana ukuran batu itu? Besar atau kecil?
Jawaban:
Ukuran batu menurut saya adalah relative terhadap ruang dan waktu. Ukurannya bisa besar dan bisa kecil.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak cahyani, bahwa ukuran batu itu relatif terhadap ruang dan waktu. Menurut saya tingkat kebodohan bisa dari tingkat yang paling kecil sampai tingkat yang paling besar. Kebodohan yang paling besar misalnya seseorang yang tidak bisa menghargai hidup ini.

5.       Apakah seseorang bisa dikatakan sebagai batu? Mengapa?
Jawaban:
Manusia bisa dikatakan sebagai batu, ketika orang itu adalah orang bodoh, tidak mau berfikir kritis, tidk mau berintuisi, tidak mau belajar dari pengalaman, dan tidak mau belajar dari orang yang  pandai (filsuf).
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak cahyani, bahwa benarlah orang itu akan seperti batu ketika dirinya tidak bisa memanfaatkan akal pikiran yang telah di anugrahkan oleh Tuhan sang maha pencipta.

6.       Bagaimana cirri-ciri orang yang bersifat batu?
Jawaban:
Ciri-ciri orang yang bersifat batu:
·         Tidak mau berfikir kritis
·         Merasa sudah pandai
·         Jarang bertanya
·         Tidak mau belajar dari pengalaman
·         Tidak mau menggunakan intuisi
Tanggapan:
Saya setuju dengan jawaban mbak Cahyani. Telah di jawab seperti diatas, hindarilahdiri kita dari cirri-ciri tersebut karena itu adalah akar dari tumbuhnya kebodohan. Hidup berawal dari intuisi. Ilmu pengetahuan tumbuh dari intuisi ruang dan waktu. Mengacu kepada epistimologi filsafat. Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis. (http://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi)

7.       Sifat batu itu berasal dari mana?
Jawaban:
Sifat batu itu berasal dari mana-mana ketika orang tersebut tidak mau berfikir sehingga tidak berilmu (bodoh).
Tanggapan:
Saya setuju dengan jawaban mbak Cahyani. Tonggak dari kebodohan adalah ketika seeorang tidak mampu menggunakan akal pikirannya, seseorang tidak dapat berintuisi terhadap ruang dan waktu. Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi).

8.       Bagaimana menghindari sifat batu?
Jawaban:
Cara menghindari sifat batu:
·         Berfikir kritis
·         Banyak bertanya
·         Mau belajar dari pengalaman dan teori
·         Berintuisi
Tanggapan:
Saya setuju dengan jawaban mbak Cahyani. Beberapa cara di atas adalah trik-trik untuk menghindari sifat batu, agar kita terhindar dari kebodohan dan pengetahuan lah yang kita dapat. Pengetahuan bisa berasal dari apriori dan aposteriori. Apriori adalah pengetahuan yang ada sebelum bertemu dengan pengalaman. Atau dengan kata lain, sebuah istilah yang dipakai untuk menjelaskan bahwa seseorang dapat berpikir dan memiliki asumsi tentang segala sesuatu, sebelum bertemu dengan pengalaman dan akhirnya mengambil kesimpulan. Hal ini dipakai untuk mengritik filsafa empirisme yang hanya menekankan yang logis, yang dialami, yaitu selalu bergantung pada pengalaman, hal itu disebut sebagai aposteriori. Istilah ini paling sering dan penting dikemukakan oleh filsuf besar, Imanuel Kant. Bagi Kant, apriori berangkat dari dugaan tanpa bergantung yang empiris atau pengalaman yang bisa ditangkap oleh inderawi. Istilah ini dipakai untuk menyatakan bahwa manusia sudah memiliki kesadaran dalam dirinya sebelum bertemu dengan pengalaman-pengalaman dalam lingkungan dan dunianya. Kant menyatakan bahwa pengetahuan yang sahih bukan hanya bergantung dari pengamalam saja, sebab hal ini kurang logis berkenaan dengan waktu dan asal mula. Bagi dia, terdapat hal-hal yang selalu tidak bisa ditangkap dan dijelaskan oleh inderawi saja. Imanuel Kant meyakini bahwa ada sesuatu yang menjadi "dalang" atas pikirannya. Dan dia memakai istilah "transenden" untuk menunjukkan subyek yang niscaya sudah ada itu. (http://id.wikipedia.org/wiki/Apriori)
9.       Apakah sifat batu itu tetap atau sementara?
Jawaban:
Menurut saya sifat batu itu sementara melekat pada orang. Sebodoh-bodohnya orang dalam fase hidupnya pasti menggunakan pikirannya. Contoh: kalau orang lapar, dia akan berfikir bagaimana dia mencari makanan.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahyani. Sifat batu yang melekat kepada seseorang hanyalah sementara.

10.   Adakah lawan dari batu?
Jawaban:
Lawan dari batu adalah orang yang berfikir.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahyani. Seperti yang telah di jelaskan dalam pertanyaan sebelumnnya, lawan dari batu atau kebodohan adalah orang yang berfikir. Karena filsafatnya orang adalah manusia yang berfikir, dengan yang ada dan yang mungkin ada sebagai obyeknya.

11.   Kapan sifat batu itu berakhir?
Jawaban:
Sifat batu berakhir ketika ketika orang itu mau berfikir dan menggunakan pikirannya.
Tanggapan:
Saya sependapat dengan jawaban mbak Cahya. Sifat batu itu akan musnah ketika orang itu mau berfikir, mau berintuisi.

12.   Adakah batu yang bermanfaat?
Jawaban:
Menurut saya, batu bermanfaat itu relative dan kontradiktif. Misal: ketika kita bertanya mengenai masalah pelajaran kepada orang yang bodoh, maka ia tidak bisa menjawab, itu artinya kita rugi. Sebaliknya jika ada penipu hendak membohongi orang bodoh, dia dapat dengan mudah melakukannya. Itu artinya orang bodoh menguntungkan penipu.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahyani. Relatif dan kontadiktif, karena manusia hidup relatif terhadap ruang dan waktu. Dan hidup itu sendiri adalah kontradiktif.

13.   Bilalamana laki-laki dan perempuan bisa bercinta, bagaimana dengan batu? Apakah batu bisa bercinta?
Jawaban:
Cincin bisa bercinta sama halnya laki-laki dan perempuan. Ketika ada orang menikah lalu tukar cincin maka batu cincin sedang bercinta.
Tanggapan:
Saya sependapat dengan jawaban mbak Cahyani. Seperti yang pernah di terangkan dalam kuliah filsafat Pak marsigit, bahwa batu bisa bercinta ketika dua insan manusia laki-laki dan perempuan sedang melakukan tukar cincin.

14.   Apakah batu bisa menangis dan tersenyum?
Jawaban:                                     
Batu bisa menangis dan tersenyum. Menangis jika orang mau berfikir, itu artinya batu akan ditinggalkan karena orangnya lebih memilih untuk berfikir. Tersenyum jika orng itu tidak berfikir dan menutup pikirannya menjadi batu dan batu akan senang dan tersenyum.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak cahyani. Orang yang tidak merugi adalah orang yang mau berfikir, orang yang berintuisi, orang yang berilmu.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar