Selasa, 13 November 2012

Apakah Diriku Seperti Batu?

Dosen                                   : Prof. Marsigit, MA
Pewawancara                    : Dewi Anggraini P. (12708251083)
Yang diwawancarai          : Cahyani Eka Romadhoni (1270825)
PSn Kelas D 2012



Apakah Diriku Seperti Batu?
1.       Apakah yang kamu ketahui tentang batu?
Jawaban:
Menurut saya, batu adalah sesuatu yang keras, bentuknya bermacam-macam, batu itu diam. Batu adalah sesuatu yang mungkin ada dalam pikiranku dan dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari.  Batuan umumnya diklasifikasikan berdasarkan komposisi mineral dan kimia, dengan tekstur partikel unsur dan oleh proses yang membentuk mereka. Ciri - ciri ini mengklasifikasikan batuan menjadi beku, sedimen, dan metamorf. Mereka lebih diklasifikasikan berdasarkan ukuran partikel yang membentuk mereka. (http://id.wikipedia.org/wiki/Batu)
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahya tentang definisi batu. Definisi di atas adalah tentang definisi formalnya.
 Batuan / Batu adalah sejenis bahan yang terdiri daripada mineral dan dikelaskan menurutkomposisi mineral. Pengkelasan ini dibuat dengan berdasarkan:Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian dari lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan tetapi karena daratan adalah bagian dari kulit bumi yangdapat kita amati langsung dengan dekat maka banyak hal-hal yang dapat pula kita ketahuidengan cepat dan jelas. Salah satu diantaranya adalah kenyataan bahwa daratan tersusunoleh beberapa jenis batuan yang berbeda satu sama lain. (http://www.scribd.com/doc/28184963/Batuan-Batu-Adalah-Sejenis-Bahan-Yang)

2.       Apakah filsafat dari batu?
Jawaban:
Filsafat dari batu adalah bodoh atau tidak berilmu. Kebodohan adalah keadaan dan situasi di saat kurangnya pengetahuan terhadap sesuatu informasi bersifat subjektif. Hal ini tidak sama dengan tingkat kecerdasan yang rendah (kedunguan), seperti kualitas intelektual dan tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang. Kata "bodoh" adalah kata sifat yang menggambarkan keadaan di saat seseorang tidak menyadari sesuatu hal, tapi masih memiliki kemampuan untuk memahaminya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kebodohan)
Tanggapan:
Saya setuju dengan jawaban mbak Cahyani. Seperti yang pernah dijelaskan oleh Pak Marsigit dalam kuliah filsafat, filsafat atau normatifnya dari batu adalah tidak berilmu atau bodoh.

3.       Kapan batu itu mulai ada?
Jawaban:
Batu mulai ada ketika dalam kondisi tidak berfikir, waktu yang ada dan yang mungkin ada dalam pikiranku.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahyani, bahwa batu itu akan muncul ketika tidak bisa menggunakan akal pikirannya untuk berfikir dalam ruang dan waktu. Maka merugi sekali bila batu dijadikan fondamen dalam dirikita.

4.       Bagaimana ukuran batu itu? Besar atau kecil?
Jawaban:
Ukuran batu menurut saya adalah relative terhadap ruang dan waktu. Ukurannya bisa besar dan bisa kecil.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak cahyani, bahwa ukuran batu itu relatif terhadap ruang dan waktu. Menurut saya tingkat kebodohan bisa dari tingkat yang paling kecil sampai tingkat yang paling besar. Kebodohan yang paling besar misalnya seseorang yang tidak bisa menghargai hidup ini.

5.       Apakah seseorang bisa dikatakan sebagai batu? Mengapa?
Jawaban:
Manusia bisa dikatakan sebagai batu, ketika orang itu adalah orang bodoh, tidak mau berfikir kritis, tidk mau berintuisi, tidak mau belajar dari pengalaman, dan tidak mau belajar dari orang yang  pandai (filsuf).
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak cahyani, bahwa benarlah orang itu akan seperti batu ketika dirinya tidak bisa memanfaatkan akal pikiran yang telah di anugrahkan oleh Tuhan sang maha pencipta.

6.       Bagaimana cirri-ciri orang yang bersifat batu?
Jawaban:
Ciri-ciri orang yang bersifat batu:
·         Tidak mau berfikir kritis
·         Merasa sudah pandai
·         Jarang bertanya
·         Tidak mau belajar dari pengalaman
·         Tidak mau menggunakan intuisi
Tanggapan:
Saya setuju dengan jawaban mbak Cahyani. Telah di jawab seperti diatas, hindarilahdiri kita dari cirri-ciri tersebut karena itu adalah akar dari tumbuhnya kebodohan. Hidup berawal dari intuisi. Ilmu pengetahuan tumbuh dari intuisi ruang dan waktu. Mengacu kepada epistimologi filsafat. Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis. (http://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi)

7.       Sifat batu itu berasal dari mana?
Jawaban:
Sifat batu itu berasal dari mana-mana ketika orang tersebut tidak mau berfikir sehingga tidak berilmu (bodoh).
Tanggapan:
Saya setuju dengan jawaban mbak Cahyani. Tonggak dari kebodohan adalah ketika seeorang tidak mampu menggunakan akal pikirannya, seseorang tidak dapat berintuisi terhadap ruang dan waktu. Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi).

8.       Bagaimana menghindari sifat batu?
Jawaban:
Cara menghindari sifat batu:
·         Berfikir kritis
·         Banyak bertanya
·         Mau belajar dari pengalaman dan teori
·         Berintuisi
Tanggapan:
Saya setuju dengan jawaban mbak Cahyani. Beberapa cara di atas adalah trik-trik untuk menghindari sifat batu, agar kita terhindar dari kebodohan dan pengetahuan lah yang kita dapat. Pengetahuan bisa berasal dari apriori dan aposteriori. Apriori adalah pengetahuan yang ada sebelum bertemu dengan pengalaman. Atau dengan kata lain, sebuah istilah yang dipakai untuk menjelaskan bahwa seseorang dapat berpikir dan memiliki asumsi tentang segala sesuatu, sebelum bertemu dengan pengalaman dan akhirnya mengambil kesimpulan. Hal ini dipakai untuk mengritik filsafa empirisme yang hanya menekankan yang logis, yang dialami, yaitu selalu bergantung pada pengalaman, hal itu disebut sebagai aposteriori. Istilah ini paling sering dan penting dikemukakan oleh filsuf besar, Imanuel Kant. Bagi Kant, apriori berangkat dari dugaan tanpa bergantung yang empiris atau pengalaman yang bisa ditangkap oleh inderawi. Istilah ini dipakai untuk menyatakan bahwa manusia sudah memiliki kesadaran dalam dirinya sebelum bertemu dengan pengalaman-pengalaman dalam lingkungan dan dunianya. Kant menyatakan bahwa pengetahuan yang sahih bukan hanya bergantung dari pengamalam saja, sebab hal ini kurang logis berkenaan dengan waktu dan asal mula. Bagi dia, terdapat hal-hal yang selalu tidak bisa ditangkap dan dijelaskan oleh inderawi saja. Imanuel Kant meyakini bahwa ada sesuatu yang menjadi "dalang" atas pikirannya. Dan dia memakai istilah "transenden" untuk menunjukkan subyek yang niscaya sudah ada itu. (http://id.wikipedia.org/wiki/Apriori)
9.       Apakah sifat batu itu tetap atau sementara?
Jawaban:
Menurut saya sifat batu itu sementara melekat pada orang. Sebodoh-bodohnya orang dalam fase hidupnya pasti menggunakan pikirannya. Contoh: kalau orang lapar, dia akan berfikir bagaimana dia mencari makanan.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahyani. Sifat batu yang melekat kepada seseorang hanyalah sementara.

10.   Adakah lawan dari batu?
Jawaban:
Lawan dari batu adalah orang yang berfikir.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahyani. Seperti yang telah di jelaskan dalam pertanyaan sebelumnnya, lawan dari batu atau kebodohan adalah orang yang berfikir. Karena filsafatnya orang adalah manusia yang berfikir, dengan yang ada dan yang mungkin ada sebagai obyeknya.

11.   Kapan sifat batu itu berakhir?
Jawaban:
Sifat batu berakhir ketika ketika orang itu mau berfikir dan menggunakan pikirannya.
Tanggapan:
Saya sependapat dengan jawaban mbak Cahya. Sifat batu itu akan musnah ketika orang itu mau berfikir, mau berintuisi.

12.   Adakah batu yang bermanfaat?
Jawaban:
Menurut saya, batu bermanfaat itu relative dan kontradiktif. Misal: ketika kita bertanya mengenai masalah pelajaran kepada orang yang bodoh, maka ia tidak bisa menjawab, itu artinya kita rugi. Sebaliknya jika ada penipu hendak membohongi orang bodoh, dia dapat dengan mudah melakukannya. Itu artinya orang bodoh menguntungkan penipu.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak Cahyani. Relatif dan kontadiktif, karena manusia hidup relatif terhadap ruang dan waktu. Dan hidup itu sendiri adalah kontradiktif.

13.   Bilalamana laki-laki dan perempuan bisa bercinta, bagaimana dengan batu? Apakah batu bisa bercinta?
Jawaban:
Cincin bisa bercinta sama halnya laki-laki dan perempuan. Ketika ada orang menikah lalu tukar cincin maka batu cincin sedang bercinta.
Tanggapan:
Saya sependapat dengan jawaban mbak Cahyani. Seperti yang pernah di terangkan dalam kuliah filsafat Pak marsigit, bahwa batu bisa bercinta ketika dua insan manusia laki-laki dan perempuan sedang melakukan tukar cincin.

14.   Apakah batu bisa menangis dan tersenyum?
Jawaban:                                     
Batu bisa menangis dan tersenyum. Menangis jika orang mau berfikir, itu artinya batu akan ditinggalkan karena orangnya lebih memilih untuk berfikir. Tersenyum jika orng itu tidak berfikir dan menutup pikirannya menjadi batu dan batu akan senang dan tersenyum.
Tanggapan:
Saya setuju dengan pendapat mbak cahyani. Orang yang tidak merugi adalah orang yang mau berfikir, orang yang berintuisi, orang yang berilmu.
 

Senin, 08 Oktober 2012

APA ITU DETERMINISM?


Determinism berasal dari kata “to determin” yang berarti memberlakukan sifat atau menjatuhkan sifat. Contoh determinism (pada hewan) misalnya, seekor burung yang menjatuhkan kontorannya di atas daun. Pada tumbuhan misalnya, daun yang jatuh ke tanah itu sudah determinism karena daun telah menutup-nutupi sifat tanah yang tampak  hanyalah sifat daun. Lalu bagaimana relevansinya pada kehidupan kita? Sangat relevansi. Bahaya dari determinism adalah jika merugikan orang lain, determinism kecil merugikan, determinism besar bisa membunuh. Dan bahaya lagi jika yang bersangkutan tidak menyadarinya dan itu telah dilakukan oleh hampir semua guru di Indonesia, karena semua guru suka menutupi murid-muridnya dengan bayang-bayang mereka (seperti dalam elegi guru menggapai kesempatan).  Maka secara filsafat, orang yang suka menutupi sifat orang lain, orang yang suka memaksakan kehendak, dan seorang pemimpin yang tidak bijaksana adalah orang yang sangat kejam. Maka salah satu solusinya adalah komunikasi, berusaha mengungkapkan kembali supaya tidak jauh memahaminya (dengan cara terjemah dan menterjemahkan).
Sehebat-hebat manusia, determinnya masih relativ. Determin absolute adalah Tuhan, karena Tuhan yang menciptakan segalanya di dunia ini. Sebagian besar orang sangat suka menjatuhkan sifat kepada orang lain terutama kepada orang yang dikuasainya. Misalnya suami yang menjatuhkan sifat kepada istri, ibu kepada anak, dan kakak kepada adik, gubernur kepada bawahannya, dan seterusnya. Disini yang ditekankan adalah determinasi guru kepada murid, sehingga guru harus instrospeksi yaitu dengan komunikasi, terjemahkanlah siswamu dan maka akan diterjemahkan siswamu dalam ruang dan waktu dalam kerangka doa. Guru yang mengatakan bahwa murid itu pintar itu termasuk determinasi positif karena membuat murid bahagia, tetapi dalam waktu lama belum tentu itu baik.

Dewi Anggraini P.
PSn Kls D 2012

Minggu, 30 September 2012

ALIRAN FILSAFAT DAN PERKEMBANGANNYA


Filsafat,sebuah kata yang terdengar kadang begitu berat bagi sebagian orang, namun jika dipelajari secara mendalam terkadang menimbulkan sensasi keasyikan tersendiri buat penggemarnya. Berbicara mengenai perkembangan beberapa aliran filsafat, kita mengenal aliran Materialisme yang dikemukakan pertama kali oleh Herakleitos dan Parmenides adalah tonggak pertama dari perkembangan aliran-aliran filsafat.
1.      Herakleitos (540-480 SM)
Menurut Herakleitos, tidak ada satu pun di ala mini yang bersifat tetap atau permanen. Apa yang kelihatan tetap, sebenarnya adalah dalam proses perubahan. Jadi, yang menjadi sebab terdalam dari segala sesuatu adalah perubahan, yaitu gerakan ‘menjadi’ secara terus-menerus. Herakleitos menyebutnya ‘pantarei’, bahwa realitas sesungguhnya adalah dalam keadaan sedang mengalir, sedang bergerak menjadi, dan sering mengalami perubahan. Filsafat Herakleitos terkenal dengan ‘filsafat menjadi’ (to become), realitas sesungguhnya adalah mengalami perubahan. Dari pendapatnya itu, dapat ditarik suatu penilaian bahwa Herakleitos tidak mengakui adanya pengetahuan umum yang bersifat tetap. Ia hanya mengakui kemampuan indera dan menolak kemampuan akal. Karena setiap perubahan terjadi dalam realitas konkret, dalam ruang dan waktu tertentu.
2.      Permenides (540-575 SM)
Parmenides (540-575) terkenal sebagai bapak ‘Filsafat ada’ (philosophy of to be). Filsafatnya adalah, “yang realitas dalam ala mini hanya satu, tidak bergerak dan tidak berubah”. Dasar pemikirannya adalah yang ada itu ada, yang mustahil adalah tidak ada. Hal ini berarti bahwa di dalam realitas ini penuh dengan yang ‘ada’. Jadi tidak ada yang lain termasuk yang ‘tidak ada’, karena yang tidak ada itu di luar jangkauan akal dan tidak dapat dipahami.
Karena yang ‘ada’ bersifat tetap, maka adanya hanya satu dan tak mungkin ada permacam-macaman. Sebagai konsekuensinya, yang ‘ada’ tidak berawal dan tidak mengalami keakhiran. Oleh karena yang ‘ada’ itu satu. Maka tidak mungkin terbagi-bagi. Karena pendapatnya yang mengatakan bahwa ‘yang ada itu ada dan yang tidak ada memang tidak ada’, Parmenides pun dikukuhkan sebagai peletak landasan dasar metafisika. Parmenides sama sekali menolak pengetahuan indera sebagai kebenaran, seperti yang diakui oleh Herakleitos. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan akal, karena bersifat umum, tetap, dan tidak berubah. Sedangkan pengetahuan indera adalah pengetahuan yang sama sekali keliru. Oleh karena itu, kebenaran adalah sesuatu yang bersifat tetap.

Seiring berjalannya waktu, aliran-aliran filsafat pun berkembang. Berikut ini aliran filsafat dibagi menjadi 4 periode yaitu jaman kuno, jaman abad pertengahan, jaman modern dan masa kini.


A).  Jaman Filsafat Yunani Kuno (600 SM-400M)
Jaman kuno meliputi jaman filsafat pra-socrates di Yunani. Tokoh-tokohnya dikenal dengan nama filsuf-filsuf pertama atau filsuf alam.
1.      Idealisme
Sejarah bergulir, aliran idealisme muncul melalui Socrates dan Plato. Ajaran Socrates (469-399 SM) sepenuhnya dikembangkan oleh muridnya Plato (427-347 SM). Menurut Socrates dunia sesungguhnya adalah ‘dunia idea’, dunia yang utuh dalam kesatuan yang bersifat tetap, tidak berubah. Dunia ini penuh dengan bermacam-macam dan perubahan. Karena itu, semua yang ada di dunia ini, termasuk manusia dan makhluk lainnya, bersifat semu dan menjadi bayang-bayang dari dunia idea. Jadi, bukan merupakan kebenaran.
Filsuf idealis yang pertama kali dikenal adalah Plato. Plato membagi duni menjadi dua bagian. Pertama, dunia persepsi, dunia penglihatan, suara dan benda-benda individual. Dunia yang kengkret ini adalah temporal dan rusak, bukan dunia yang sesungguhnya, malainkan sebagai bayangan alias penampakan saja. Kedua, terdapat di alam benda, yaitu alam konsep, idea universal dan esensi yang abadi. Dengan kata lain idea adalah gambaran asli segala benda. Semua yang ada dalam dunia hanyalah penjelmaan. Idea tidak dapat ditangkap dengan indera, tapi dapat dipikirkan. Kebijaksanaan hanya ada di dunia idea, yaitu dunia yang tidak mungkin dapat disentuh oleh keterbatasan manusia. Ketidakmampuan manusia terjadi karena jiwa (akal), sebagai potensi mengetahui kebenaran, terpenjara di dalam badan. Badan selalu diliputi oleh nafsu yang mengotori jiwa. Dengan jiwa yang kotor, akal tidak mungkin mengetahui secara mutlak idea kebijaksanaan. Untuk dapat mengetahui kebijaksanaan, jiwa harus melepaskan diri dari penjara badan. Untuk dapat lepas dari badan, jiwa harus membersihkan diri dengan berperilaku ‘baik’, yaitu perilaku yang terbebas dari nafsu-nafsu badan. Pandangan Socrates dan Plato dikenal sebagai paham ‘idealisme’.

2.      Realisme
Aliran berikutnya adalah Realisme yang digagas oleh Aristoteles (384-342 SM). Bertentangan dengan Plato, gurunya, Aristoteles berpendapat bahwa dunia yang sesungguhnya adalah dunia real, yaitu dunia konkret, yang bernacam-macam, bersifat relative, dan berubah-ubah. Dunia idea adalah dunia abstrak yang bersifat semu dan terlepas dari pengalaman. Itulah sebabnya mengapa pandangan Aristoteles dikenal sebagai paham ‘realisme’. Namun selanjutnya, Aristoteles dikenal sebagai bapak ‘metafisika’. Aristoteles memfokuskan filosofinya pada persoalan tentang sesuatu yang ada di balik (sesudah) yang fisis, yang konkret, dan selalu berubah-ubah ini. Teori aristoteles yang cukup terkenal adalah tentang materi dan bentuk (simbolik). Keduanya ini merupakan prinsip-prinsip metafisis, materi adalah prinsip yang tidak ditentukan, sedangkan bentuk adalah prinsip yang menentukan. Teori ini terkenal dengan sebutan ‘Hylemorfisme’.

B).  Jaman Modern
Pada jaman modern, pusat perhatian pemikiran tidak lagi kosmos, seperti jaman kuno, melainkan manusia. Mulai jaman modern inilah manusia yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan. Jaman modern ditandai dengan munculnya rasionalisme Rene Descrates.  Diikuti oleh aliran dari John Locke dan Immanuel Kant.
1.      Rasionalisme
Aliran selanjutnya adalah Rasionalisme yang diusung oleh Rene Descartes (1596-1650). Rene Descartes adalah ahli filsafat yang mengagungkan rasio. Pengetahuan yang benar bersumber dari dunia rasio, karena rasio adalah realitas sesungguhnya. Dalam rasio terdapat ide-ide dan dengan ide-ide itu orang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas diluar rasio. Dalam memahami aliran rasionalisme, kita harus memperhatikan dua masalah utama, yang keduanya diwarisi dari Decrates. Pertama, masalah subtansi, kedua adalah masalah hubungan antara jiwa dan tubuh. Hal ini terbukti dengan ucapannya yang terkenal “cogito ergo sum” (I think therefore I am); dalam kegiatan pemikiran menentukan keberadaanku.
Terlepas dari segala argumen dan kritikan, Descartes telah berhasil memberikan fondasi kepastian bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Descartes telah menemukan sesuatu yang tak terpikir oleh filsafat klasik, sebuah cara penalaran baru yang menjamin kebenaran dirinya sendiri secara pasti. Dunia filsafat hingga sekarang tidak mungkin melupakan dirinya sebagai the founder of modern philosophy.

2.      Empirisme
Empirisme muncul dengan tokohnya yang terkenal John Locke (1632-1704). Locke termasuk orang yang mengagumi Descrates, tetapi ia tidak menyetujui ajarannya. Bagi Locke mula-mula rasio manusia dianggap sebagai ‘lembaran kertas putih’. Pengetahuan yang benar bersumber dari dunia pengalaman, dunia konkret. Realitas adalah “tabularasa”, bagaikan kertas putih yang perlu diisi dengan banyak pengalaman. Semakin banyak pengalaman mengenai sesuatu hal, semakin banyak pula kebenaran objektif yang didapatkan tentang sesuatu hal itu. Kemampuan rasio hanya dapat mengetahui secara abstrak, umum, dan bersifat tetap. Pengalaman panca inderalah yang maapu mengenali yang konkret, yang satu per satu dan selalu berubah-ubah ini.

3.      Kritisisme
Selanjutnya datang aliran kritisisme yang dibawa oleh Immanuel Kant (1724-1804). Filsafat ini memulai pelajarannya dengan menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Isi utama dari kritisisme adalah gagasan Immanuel Kant tentang teori pengetahuan, etika dan estetika. Pengetahuan yang benar ada di dunia idea; dunia kritik atas kemampuan akal pikiran dan pengalaman. Sesuatu yang menampak, yang dapat dialami dan dipikiran, hanyalah gejala (fenomena), bukan halnya sendiri dan bukan substansinya. Halnya sendiri tidak bisa disentuh baik oleh kemampuan rasio maupun pengalaman. Demikianlah, Immanuel kant berpendapat secara akumulatif.
Secara fenomenologis, pengetahuan yang bersumber dari rasio disebut pengetahuan apriori, dan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman disebut pengetahuan aposteriori. Menurut metodenya, dibedakan menjadi pengetahuan sintetik dan pengetahuan analitik. Kombinasi antara sumber dan metode melahirkan 4 (empat) jenis pengetahuan, yaitu sintetik-apriori, sintetik-aposteriori, analitik-apriori, dan analitik-aposteriori. Dengan keempat sumber dan metode mengetahui tersebut, Kant mencoba membuktikan bahwa kemampuan rasio dan pengalaman tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling berada di dalam kelemahan dan kekuatannya masing-masing. Rasio memiliki kemampuan menangkap kebenaran pengetahuan secara umum, tetapi lemah dan kabur terhadap pengetahuan konkret khusus. Sebaliknya, pengalaman memiliki kekuatan mengenali setiap hal yang khusus, tetapi kabur terhadap prinsip-prinsip umum.

C).  Masa Kini
Masa kini dimulai abad 19 dan 20 dengan timbulnya berbagai aliran yang berpengaruh seperti positivisme, marxisme, eksistensialisme, pragmatisme, humanism, feminism.
1.      Positivisme
Istilah positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat dirunut asalnya ke pemikiran Auguste Comte (1798-1857). A. Comte menyatakan bahwa pemikiran setiap manusia, pemikiran setiap ilmu dan pemikiran suku bangsa manusia pada umumnya melewati tiga tahapan, yaitu:
a.       Tahap teologis: manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Tahap teologis itu ini sendiri dapat dibagikan lagi atas tiga periode. Pada taraf paling primitif benda-benda sendiri dianggap berjiwa (animisme). Pada taraf berikutnya manusia percaya pada dewa-dewa yang masih menguasai suatu lapangan dengannya ialah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia saja.
b.      Tahap metafisis: kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak, seperti misalnya kodrat dan penyebab. Metafisika dijunjung tinggi dalam tahap ini.
c.       Tahap positif ilmiah: dalam tahap positif ini manusia membatasi diri pada fakta-fakta yang disajikan kepadanya. Baru dalam tahap terakhir ini dihasilkan ilmu pengetahuan dalam arti sebenarnya.
 Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.

2.      Ekstensialisme
Eksistensialisme dipersiapkan dalam abad ke 19 oleh S. Kierkegaard (1813-1855) dan F. Nietsche (1844-1900). Dalam abad ke 20, eksistensialisme menjadi aliran filsafat yang sangat penting. Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keberadaan manusia, dan keberadaan itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi “seorang yang lain daripada yang lain”, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri.

3.      Pragmatisme
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat tahun 1900. Tokoh-tokoh terpenting dari pragmatism: W. James (1842-1920) dan J. Dewey (1859-1914). Pragmatism mengajarkan bahwa ide-ide tidak ‘benar’ atau ‘salah’ melainkan bahwa ide-ide dijadikan benar oleh suatu tindakan tertentu. Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu. Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual dan konkret. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja.
Representasi atau penjelmaan realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah.

4.      Humanisme
Sejak abad ke 15 yang disebut dengan masa kebangkitan kembali atau renaissance yang berkembang di Italia, timbul pandangan humanisme yang didukung oleh berbagai penemuan seperti mesin cetak serta ditemukannya benua Amerika dan India oleh Columbus dan Vasco de Gama.
Humanisme memiliki dua arah, yakni humanisme individu dan humanisme social. Humanisme individu mengutamakan kemerdekaan berpikir, mengemukakan pendapat, dan berbagai aktivitas yang kreatif. Kemampuan ini disalurkan melalui kesenian, kesusastraan, musik, teknologi, dan penguasaan tentang ilmu kealaman. Humanisme social mengutamakan pendidikan bagi masyarakat keseluruhan untuk kesejahteraan social dan perbaikan hubungan antarmanusia.

DEWI ANGGRAINI PURWANDHARI
12708251083
Pendidikan Sains Kelas D